Skip to main content

Kesabaran Ibrahim bin Adham


Dikisahkan bahwa, pada suatu hari, Ibrahim bin Adham  pergi ke suatu tempat di padang pasir, dan berjumpa dengan seorang tentara yang menegurnya: "Engkau seorang hamba/budak?" "Ya" jawab Ibrahim. Orang itu bertanya lagi: "Dimana tempat yang dihuni orang banyak?". Mendengar itu, ibrahim menunjuk ke tempat pekuburan. Orang itu mengulangi lagi pertanyaannya: "Yang saya tanyakan adalah tempat yg banyak penghuninya!" Jawab Ibrahim: "Itulah pekuburan". Merasa dipermainkan, tentara itu menjadi marah dan memukul kepala Ibrahim dg sebuah cambuk, sehingga menyebabkannya terluka dan berdarah. Lalu dikembalikannya ke kota dan berjumpa dg para pengikutnya. Mereka menanyakan: "Apa yg terjadi?" Tentara itu memberi tahu mereka mengenai pertanyaannya serta jawaban yg diterimanya. Orang-orang itu menjelaskan: "Ini adalah Ibrahim bin Adham!". Mendengar itu si tentara terkejut dan segera turun dari kudanya, lalu mencium kedua tangan dan kaki Ibrahim, sambil meminta maaf darinya.

Setelah itu beberapa orang menanyakan kepada Ibrahim, "Mengapa anda mengatakan kepadanya bahwa Anda seorang hamba/budak?" Jawab Ibrahim: "Ia tidak menanyakan kepadaku: "Hamba siapa anda?" tetapi bertanya : "Apakah anda seorang hamba/budak?" Maka aku pun menjawab "Ya". Karena aku adalah hamba ALLAH. Dan ketika ia memukul kepalaku, kumintakan surga baginya dari ALLAH SWT". Seorang dari mereka bertanya, "Mengapa? Bukankah ia telah menzalimi anda?". Jawab Ibrahim : "Aku tahu bahwa aku akan memperoleh pahala karena (bersabar atas) perbuatannya itu. Maka aku tak mau bagian yang kuperoleh darinya berupa kebaikan (pahala), sedangkan bagian yg diperolehnya dariku berupa keburukan (dosa karena telah memukulnya)". (Al-Ghazali)

Note laman Islamic Motivation on Monday, December 12, 2011 at 2:42pm

Comments

Popular posts from this blog

Pidato KH. Hasyim Muzadi tentang Tuduhan Intoleransi Agama di Indonesia

Baru-baru ini beredar pidato menghebohkan dari mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi melalui pesan berantai BlackBerry Messenger (BBM) dan media sosial. Bagi umat Muslim yang komitmen dengan syariat Islam, pidato Hasyim Muzadi itu adalah pidato yang brilian dan patut mendapat acungan jempol. Namun, bagi kalangan liberal dan pihak-pihak yang “memusuhi” Islam, pidato itu dianggap “radikal.” Seperti apa pidato yang menghebohkan itu? Berikut isi pidato Hasyim Muzadi yang juga Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) dan Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) tentang tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Jeneva : "Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indo...

Kisah Bidadari Surga

Bismillahir-Rahmanir-Rahim  Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak buruk pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut. Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok t...

Seruan Jihad Monumental dari Raja Faisal untuk Bebaskan Al-Aqsha!

Petikan pidato legendaris Raja Faisal Abdul Aziz yang menggetarkan dunia Islam: “Saudara-saudaraku, apa yang kita tunggu? Apakah kita mau menunggu nurani dunia? Dimanakah nurani dunia itu? Sesungguhnya Al-Quds yang mulia memanggil kalian dan meminta tolong kepada kalian, wahai saudara-saudara, , agar kalian menolongnya dari musibah dan apa yang menimpanya. Apa yang membuat takut kita? Apakah kita takut mati? Dan adakah kematian yang mulia dan utama dari orang yang mati berjihad di jalan Allah. Wahai saudaraku kaum muslimin, kami menginginkan kaum dan kebangkitan Islam, yang tidak dimuliakan oleh kesukuan, kebangsaan, dan juga partai. Tapi dakwah Islamiyah, seruan kepada jihad fi sabilillah, di jalan membela agama dan akidah kita, membela kesucian kita. Dan aku berharap kepada Allah, jika menetapkan aku mati, maka tetapkanlah aku syahid fi sabilillah. Saudaraku Maafkanlah aku, agar kalian tidak menuntutku. Karena sesungguhnya ketika aku berteriak, masjid mulia kita dihinakan ...